KISAH AYAH PEMILIK CINTA YANG TERLUPAKAN “AYAH TIDAK INKAR JANJI”

dwimulyo.desa.id   26 Desember 2018. Istriku berkata kepadaku yang sedang membaca koran. “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu kesini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya. Namanya Sindu tampak ketakutan. Air matanya banjir. Didepannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India / curd rice). Sindu adalah anak yang manis dan termasuk pintar dalam usiannya yang baru delapan tahun. Dia paling tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno. Mereka percaya kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Ayah tak akan ingkar janji Sindu adalah cerita yang mengajarkan tentang menepati janji (Dokumen : desa.id, Foto by : TM)

Aku mengambil mangkuk dan berkata pada Sindu. “Sayang, demi ayah maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini?  Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.” Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata.

“Boleh ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya. Tapi saya akan minta…..”  Dia agak ragu-ragu sejenak ” Saya akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah Ayah mau berjanji memenuhi keinginan saya?” Oke sayanag. Sindu bertanya lagi dengan meyakinkan “Betul Ayah?” Ayah menjawab “Yah pasti”

Aku jawab dengan tegas tanyannya sambil menggenggam tangan anakku yang kemerahmudaan dan lembut sebagai tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama. Istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi. “Janji!” Kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata “Sindu jangan minta komputer atau barang-barang yang lain yang mahal yah. Karena ayah saat ini tidak punya uang.”

“Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang yang mahal kok.” Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk memakan sesuatu yang tidak ia sukainya.

Setelah Sindu melewati penderitannya, dengan mata penuh harap, dan semua perhatianku, istriku dan ibuku juga tertuju kepadanya. Ternyata Sindu minta kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata permintaan gila. Anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Kisah Ayah tak akan ingkar janji karya Eidelweis Almira ( Dokumen : desa.id, Foto by : TM)

Aku coba membujuk. “Sindu kenapa kamu tidak meminta hal yang lain?” Sindu menggelengkan kepalanya. “Kami semua akan sedih melihatmu botak.” Tapi Sindu tetap dengan pilihannya “Tidak ada yah, tidak ada keinginan yang lain” Kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu “Tolonglah kenapa kamu tidak mau mengerti dengan perasaan kami?” Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya say menghabiskan makanan susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa Ayah sekarang mau menarik. Menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral.  Bahwa kita harus menepati janji kita terhadap seseorang. Apapun yang terjadi seperti raja Harishcandra (Raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya. Rela memberikan tahta, harta, kekuasaanya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku. “Janji kita harus ditepati.” Secara serentak istriku dan ibuku berkata “Apakah kamu sudah gila?” Tidak, jawabku kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.

Sindu matanya nampak berbinar penuh sinar.  “Sindu permintaanmu akan kami penuhi.” Malam itu juga aku memotong rambutnya hingga habis. Dengan kepala botak wajah sindu tampak bundar matanya kelihatan besar dan bagus.

Hari Senin, aku mengantarkannya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melampaikan tangan kepadaku. Dengan tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tungguin saya.”

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki-laki itu juga botak. Aku berpikir mungkin botak model jaman sekaranag. Tanpa memperkenalkan dirinya seseorang wanita keluar dari mobil dan berkata kepadaku “Anak Anda, benar-benar hebat. Anak-laki-laki yang berjalan bersama dia sekarang adalah anak saya Harish namanya. Ia menderita leukimia.”

Wanita itu berhenti sejenak dan menangis tersedu-sedu. “Bulan lalu harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak. Jadi ia tidak mau sekolah takut diejek, dihina teman-temannya. nah Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.

Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, kau telah mengajari ayah tentang cinta kasih.

Kadangkala ayah begitu rendah hati, belajar dari kita, anak-anak yang selalu dibekalinya peka lingkungan, peduli terhadap sesama”

Dikutib dari buku “AYAH PEMILIK CINTA YANG TERLUPAKAN” yang ditulis oleh Eidelweis Almira

 

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan