PETANI SAWIT MERANA

_*Sejenak pagi…*_

*” PARA PETANI SAWIT MERANA, AKIBAT DARI ADA YANG BANYAK BICARA “*

_*Oleh : Wayan Supadno/Pak Tani*_

Dunia komoditas pertanian khususnya hasil perkebunan lagi diderai masalah harga yang tidak lagi sehat, mulai dari teh, karet, rempah, kelapa dan saat ini yang paling menguras energi mengembalikan ke posisi awalnya adalah sawit, harga di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sekitar Rp 1.000/kg, padahal beberapa bulan lalu mendekati Rp 2.000/kg. Praktis jika harga Rp 1.000/kg setara dengan biaya produksinya, artinya remis, drow atau bahkan merugi.

Apapun alasannya sawit telah menjadi bagian dari tulang punggung perekonomian bangsa kita, karena telah nyata berkontribusi banyak terhadap penciptaan cadangan devisa, untuk tahun 2017 saja nilai ekspor 9 produk dari sawit Rp 244 Trilyun (BPS). Jumlah yang cukup dominan dalam neraca perdagangan kita.

Entah apa sebabnya, yang pasti salah 1 nya akibat karena kita tidak solid, tidak kompak apalagi saling isi bersinergi, pendek kata pepatah bilang ” senang jika melihat orang susah dan susah jika melihat orang senang “.
Bukan melihat secara menyeluruh dan detail, kalaupun ada masalah mestinya cukup diselesaikan di dalam negeri saja. Dikoreksi dan disempurnakan.

Kenapa itu terjadi, tak lain karena kita kadang mau jadi orang murahan, ada oknum internal kita mungkin berbentuk atau mengatas namakan dirinya sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), bekerja atas kemauan pihak luar atau mungkin didanainya, tentu salah 1 targetnya agar sawit kita, tulang punggung ekonomi sosial kita dislokasi atau bahkan patang, lalu syaraf – syarat maupun otot di dalamnya lumpuh.

Indikasinya sudah jelas mulai nampak mata, banyak petani mulai kesulitan perekonomiannya karena pendapatan dari sawitnya tinggal 50% dari biasanya, PTP N yang notabene perusahaan milik negara mulai ada yang tutup di Kalimantan Barat dan PTPN 2 di Sumatera juga mulai tidak menerima buah sawit milik masyarakat termasuk plasmanya. Ada dalam berita.

Ketenaga kerjaan yang terlibat pada dunia sawit mulai hulu hingga hilir minimal 50 juta KK, dana perbankan yang terpakai dari kebun hingga pabrik prediksi saya tak kurang dari Rp 500 Trilyun, karena luas sawit kita lebih dari 14 juta hektar dan tentunya doninan memakai fasilitas perbankan , terluas di dunia. Tentu jika sawit mengalamai masalah serius berkepanjangan angka kredit macet (NPL) akan naik tajam, pengangguran akan melambung lagi jumlahnya.

Kondisi makro seperti ini saya meyakini tak terpikirkan oleh oknum orang – orang Indonesia yang nengatas namakan LSM dan lainnya, yang mau jualan data rahasia kita, yang mau dikondisikan bersuara lantang memusuhi bangsanya sendiri. Ini pasti tak disadarinya, atau mungkin agar terkenal melegendaris bersejarah karena ” sikap negatifnya “. Menyedihkan sekali.

Rasanya penting kita pahami lalu kita syukuri bahwa sawitlah sumber minyak nabati paling produktif dibandingkan komoditas lainnya misal bunga matahari yang hanya 1,5 ton minyak/ha/tahun, padahal sawit bisa 5 ton minyak/ha/tahun. Tentu ini berdampak terhadap boros tidaknya penggunaan lahan jika dibutuhkan minyak nabati dalam berat sama. Contoh sederhana, jika kita butuh minyak nabati 60 ton, jika dari sawit hanya butuh lahan 12 ha tapi kalau dari bunga matahari butuh 40 ha.

Jika skala puluhan juta ton, tentu berjuta kali lipatnya dari lahan sawit. Ini yang mesti diketahui oleh orang – orang yang suka nyinyir sok peduli terhadap komoditas ramah lingkungan tapi lantang bersuara ke luar sana. Tentu masih banyak alasan lain lagi yang sama logisnya.

Sekali lagi menegaskan bahwa dalam upaya mewujudkan minyak nabati berkelanjutan maka sawitlah paling hemat dalam penggunaaan lahan dibanding komoditas lain seperti di Eropa sana, bunga matahari kedelai maupun kacang tanah, belum lagi sapi yang terkandung di tengah sawit juga menambah nilai ekonominya dalam satuan luasnya.

Saya jadi ingat sekitar tahun 1995, saat itu saya baca di media masa banyak komentator begitu mudahnya berkomentar menyalahkan bangsanya sendiri Indonesia kita ini, saat itu luas sawit kita masih kalah dibandingkan Malaysia, seolah kita keliru besar atau bahkan kita dianggap (maaf) bodoh karena awalnya sawit dibawa ke Indonesia bukan ke Malaysia dan indukan sawit bagus – bagus juga banyak di Indonesia. Banyak pihak menyalahkan, kenapa kita kalah luas dengan Malaysia.
Aneh tapi nyata, ibarat meludah ke langit akhirnya mengenai muka dirinya sendiri.

Intinya..
Jika energi kita habis buat hal negatif maka apapun akhirnya habis, bahkan sawit 14 juta ha dengan 50 juta KK pekerjanya yang mestinya disyukuri karena bagian dari anugerah justru diingkarinya dan dianggap sebuah malapetaka.

Teori dalam sebuah buku terjemahan hal ilmu pertempuran : ”
Kalau musuh di luar sana paling hanya bisa melukai, tapi kalau musuh di dalam satu selimut sendiri justru bisa membunuh “.

Pesan dalam sebuah acara kultum di TV saat Ramadhan *” Jika kita berpikir negatif saat melihat batu maka berucap ini batu paling enak buat melempar kepala orang pasti bisa benjol, tapi jika berpikir positif maka berucap ini batu paling pas buat pondasi pasti kokoh kuat nyata bermanfaat “*
Tinggal pilih kita mau jadi yang mana..

Selamat mawas diri..

Salam 🌴🇮🇩
WS/Pak Tani Sawit

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan