ANALISA CASH FLOW MAKRO JIKA SAWIT MAKIN BERMASALAH, DI MATA PETANI

Sejenak sore..

ANALISA CASH FLOW MAKRO JIKA SAWIT MAKIN BERMASALAH, DI MATA PETANI

Oleh : Wayan Supadno/Pak Tani

Dalam sebuah group medsos ada diskusi, timbul pertanyaan sederhana, kalaulah benar bahwa merosotnya harga sawit akibat menurunnya/penolakan Negara Uni Eropa akibat kampanye negatif oknum masyarakat Indonesia, apa benar juga bahwa terjadinya penutupan beberapa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) maupun penolakan sawit rakyat oleh PKS juga karenanya ?

Jawaban saya sederhana dan ringan, iya dan pasti.

Alasannya sebagai berikut :

1. Uni Eropa salah satu pasar utama terhadap produk turunan dari prosesing teknologi inovasi tinggi di India dan RRC, selama ini yang menyerap minyak sawit (CPO) kita.

Bahkan Uni Eropa biasanya juga mengambil CPO langsung dari Indonesia jumlah sangat besar, dari tahun ke tahun.

2. Jika pasar akhir seperti bahan farmasi, kosmetik maupun biodiesel menolak produk yang mengandung unsur sawit, maka permintaan India dan RRC terhadap CPO juga akan menurun drastis, dampaknya di PKS sebagai produsen CPO akan menumpuk banyaknya dan terus makin ekstrim banyak lagi karena hasil panenan (berkelanjutan).

Konsekwensi logis PKS tidak mampu lagi menerima Tandan Buah Segar Sawit (TBS) utamnaya dari Petani, karena tangki penampung terbatas dan kalaupun masih ada ruang isi maka mendahulukan hasil panen dari kebun inti miliknya sendiri, ini sangat logis sekali.

Itulah ruas – ruas rangakaian sederhananya, tentu bagi petani jadi merana karena tanpa ada pasarnya, barang tidak laku. Sekalipun itu sumber kehidupannya .

Jika kita melihat lebih detail cash flow makronya berangakat dari empiris saya jadi Petani sawit selama ini adalah sebagai berikut.

1. Dalam luasan 130 ha, tiap hari wajib ada yang dipanen karena dalam 1 pohon yang sama tiap 15 hari wajib dipanen, luasan 130 ha tersebut menghasilkan 2 truk colt diesel 9 ton atau totalnya 18 ton TBS/harinya.

Artinya tiap hari memperkerjakan masyarakat untuk memanen dan memuat di atas truk saja sebanyak 36 KK, baru dikirim ke PKS oleh sopir dan kernetnya.
Semua itu punya tanggung jawab ekonomi dan psikologinya kepada keluarganya.

Transaksi yang timbul di masyarakat, relatif tergantung kondisi kebun dan jarak tempuh maupun jalan infrastruktur dari kebun ke PKS karenaya berjumlah sekitar 18 ton x Rp 340 = Rp 6 jutaan/hari.

Lalu..
Jika luas sawit kita 14 juta ha lebih maka per hari sedang menggerakkan masyarakat luas untuk kerja sebanyak 38 juta KK pekerja dan dana berputar ruas itu saja lebih dari Rp 6 trilyun/hari, truk operasional dari lahan ke PKS minimal 200.000 unit jika 1 truk hanya 1 kali muat. Itu baru di hulu 1 ruas.
Wajar sekali jika hulu hilir industri sawit menyerap tenaga kerja lebih dari 50 juta KK.

_Bagaimana pangsa pasar dari bisnis lainnya ?_

Herbisida..
Anggaran saya selama ini bahan herbisida plus tenaganya Rp 1.2 juta/ha/tahun.

Pupuk..
Anggaran umumnya sawit terhadap pupuk dan tenaga kerja sekitar 8 kg/pohon/tahun x 140 pohon/ha x Rp 8.000/kg = Rp 9 jutaan/ha/tahun.

Total 2 komponen itu saja jika luas 14 juta ha sekitar Rp 140 trilyun/tahun.
Tentu berdampak serius bagi produsen pupuk dan herbisida jika tanpa penasaran yang jelas, di area sana juga banyak dana berputar lebih hulu lagi maupun tenaga kerja yang diserapnya.

Ini belum aspek lain sarana produksi, kapal alat berat maupun sarana pendukungnya dari PKS ke ruas lebih hilir lagi misal ke Pabrik Minyak Goreng, Pabrik Biodiesel, Pabrik Sabun dan lainnya. Masih sangat – sangat banyak lagi.

Estimasi omsetnya masih tingkat kebun hinga PKS saja sekitar 14 juta ha x Rp 40 juta/ha/tahun = Rp 560 Trilyun/tahun. Wajar jika BPS mencatat yang diekspor jadi devisa Rp 244 trilyun pada tahun 2017.

Hemmm..
Saya tadi juga dapat sanggahan dari seorang Ekonom Makto Nasional bahwa ternyata dana fasilitas bank yang terlibat dipercayakan di dunia sawit yang saya tulis Rp 500 milyar (karena kehati – hatian saya) disanggah itu katanya baru di lahan belum investasi pabrik maupun dukungannya termasuk alat berat dan truk opersaionalnya.
Diperkirakan tak kurang dari Rp 1.500 trilyun dana bank fasilitas kredit yang terpakai.

Apa kaitannya, jka kita selama ini menabung dan deposito di bank rata – rata hanya Rp 100 juta/orang, maka sesungguhnya dana yang dipercayakan / diutangkan di dunia sawit setara milik 15 juta orang penabung maupun deposan.

Apa artinya ?

Jika itu semua macet, apalagi jika kita masih suka membuat isu atau kampanye negatif, lalu terjadi proses penarikan dana tunai bersamaan dan terburu – buru ke bank (rush) oleh penabung maupun deposan.
Gawatlah kita !
Sekali lagi, gawatlah kita.
Makanya berhentilah jadi pemain kampanye negatif.
Sangat – sangat berbahaya.

Semoga bermanfaat semakin menahan diri lalu makin mencintai negeri sendiri ..

Salam 🌴🇮🇩
WS/Pak Tani Sawit

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan