Inovasi Tani “KIAT MENDONGKRAK KUALITAS TANAH”

 

KIAT MENDONGKRAK KUALITAS TANAH

Oleh : Wayan Supadno/Pak Tani

Sering kali saya melihat pupuk organik subsidi di banyak tempat di pedesaan numpuk nyaris tak terpakai, saya hanya bisa geleng kepala saja, bahkan ada beberapa pengakuan petani di suatu daerah justru dijadikan pematang sawah atau bendungan parit. Kesalahan fatal. Ironis sekali.

Sisi lain lagi, saya pribadi selakupetani selalu dan selalu kurang jumlahnya, itu saya sangat sadari, sehingga kebutuhan saya terhadap bahan organik berapapun terasa masih kurang. Kontradiktif dengan apa yang terjadi pada umumnya petani kita.

Kenapa lahan saya harus diberi pupuk organik jumlah besar sekali, karena saya sadar hanya dengan cara itu maka bisa mendongkrak kadar nyawanya tanah sekaligus indikator kesuburan tanah yaitu C Organik, ideal kadar C Organik tanah subur minimal 4%. Itu bisa didapat jika lahan diberikan bahan organik dengan jumlah besar.

Perlu kita sadari bersama bahwa kebijakan Kementan mendorong agar lahan diperbanyak pupuk organik itu kebijakan sangat penting dan strategis sekali, karena atas kajian bahwa ada gejala proses degradasu mutu tanah persawahan kita, indikatornya tahun 1970 an kadar C Organik sekitar 2,5%, saat ini hanya di bawah 1% saja, idealnya di atas 4%.

Hal lain lagi, bahwa pupuk organik adalah media biak mikroba/hayati beragam strainnya, lahan pertanian sangat membutuhkan banyak strain mikroba fungsional dengan jumlah koloni yang setinggi mungkin.

Hal penting patut disadari bahwa sekalipun bahan organik adalah pupuk terlengkap kadar hara yang terkandung di dalamnya dibanding pupuk kimia, tapi jumlah kadar per unsur tersedia sangat – sangat sedikit, maksimal hanya 3% saja. Untuk meningkatkannya adalah dengan peran dominan dari mikroba.

Mikroba perannya bukan hanya sebatas mengurai baham organik saja agar haranya tersedia, tapi ada sangat banyak sekali fungsi manafaat lainnya, di antaranya penambat N (Rhizobium, Azospirilum, Azotobacter dllnya), pelarut P dan K (Bacillus, Pseudomonas dllnya), reduktor logam berat (Aspergilus Niger), biopestisida fungi patogen (Trichoderma) dan masih banyak lagi perannya yang sesuai kebutuhan petani maupun pertanian.

Indikasi suatu lahan sehat dan subur meliputi ;

1. Bukan area yang endemis terhadap hama penyakit yang terkait langsung dengan komoditas yang dibudi dayakan.

Jika dipaksakan maka ibarat kita ” membuatkan restoran super lezat ” bagi hama penyakitnya, menambah umur dan memperbanyak populasinya hingga lestari karena ada inang media biaknya, peluang gagal panennya sangat besar sekali.

Solusinya, berikan sejak dini fase preventif biang mikroba yang perannya sebagai biocontrol (lawannya/penghambat/predatornya) hama penyaktit tersebut pada pra tanam agar sempat berbiak dulu melindungi tanaman dari ancaman hama penyakit, ibaratnya biocontrol adalah tentaranya.

2. pH tanahnya netral antara 6 sd 7, jika dipaksakan tanam saat pH rendah sekali (masam) maka proses pemupukan tiada arti apa – apa, pemborosan sangat ekstrim, bahkan tanaman bisa keracunan karenanya, manisfestasinya berapapun jumlah pupuk yang diberikan tanaman tetap kuning dan kerdil.

Solusinya, berikan bahan penetralnya misal kapur pertanian (dolomit), agar netral lalu fungsi pemupukan sesuai harapan.

3. Tanahnya gembur remah, ini bisa dilakukan dengan pengolahan traktor, pencangkulan dan lainnya.

3. Kadar C Organik minimal 4%, inilah hal terpentingnya. Inilah nyawanya tanah, inilah indikator utama lahan tersebut subur tidaknya.

Jika kadar C Organik tinggi, humus tinggi nyaris apapun yang ditanam akan bagus, misal saja tanaman di dekat sampah dapur, tanaman di bekas hutan alam, tanaman di dekat kotoran ternak maupun dekat limbah organik di paasr maupun pabrik dan masih banyak contoh lagi.

4. Terpenting, lahan harus mengandung beragam strain mikroba fungsiinal dengan derajat pangkat koloni yang tinggi.

*Ini sangat – sangat penting bagi petani, mikroba inilah yang menyajikan hara buat tanaman dengan proses selulotiknya, yang menambatkan nitogen yang adanya di udara minimal 78%, yang melarutkan P dan K dalam tanah selama ini kita depositokan, yang mereduksi logam berat yang selama ini kita bom dengan bahan kimia misal herbisida maupun pestisida, yang menghadirkan flora fauna baru sahabat petani misal cacing belut, yang melindungi dari amcaman hama penyakit karena perannya sebagai biocontrol/biopestisida.*

Langkah – langkahnya :

1. Jangan mengabaikan pupuk organik apalagi yang subsidi hanya dijual Rp 20.000/karung di Toko Pertanian, apalagi dijadikan pematang sawah saja. Saya beli ini tanpa subsidi jumlah besar bertahun tahun (foto terlampir).

2. Saat olah tanam, 5 hari sebelum tanam padi, tabur kaptan (dolomit), pupuk organik dan aplikasikan biang mikroba, agar kualitas tanah meningkat tajam secara homogen. Proses ini pH tanah akan netral, C Organik naik tajam, biang mikroba berbiak massal siap membantu petani secara total.

Sejujurnya..
Saya patut bersyukur akhir – akhir ini makin banyak permintaan biang mikroba secara curah non kemasan mewah, dari waktu ke waktu makin banyak saja terhadap Bio EXTRIM maupun HORMAX. Langsung ke dan oleh Petani.

Artinya ada kesadaran massal makin banyak untuk menyehatkan dan menyuburkan kembali tanah kita.
Ini sangt penting jika langsung pada tataran petani. Up grade kualitas tingkat user nya.

*Bahkan idealnya, semua petani seyogyanya bisa membuat pupuk sendiri, mandiri agar lebih kompetitif lagi.*

Beda sekali dengan pola dulunya, banyak produsen pupuk yang punya legalitas tapi tidak mau sibuk lalu pesan curah ke sana, mereka kemas ulang, untuk dijual lagi. (foto terlampir).

Semoga bermanfaat nyata..

Salam Inovatif 🇮🇩
WS/Pak Tani

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan