MASYATAKAT KECILPUN SUMBER INSPIRASI

_*Sejenak pagi…*_

 

 

MASYARAKAT KECILPUN SUMBER INSPIRASI

 

Oleh : Wayan Supadno/Pak Tani

 

dwimulyo.desa.id | 23 Oktober 2018

Ternyata, inspirasi lapangan tidak hanya datang dari perusahaan besar yang punya banyak pakar, modal, teknologi canggih dengan pangsa pasar yang sangat besar. Malah kadang jika terlalu besar lepas dari angan – angan, misal ada salah 1 perusahaan holding memiliki anak perusahaan hingga 200 lebih, kerjanya cuma jual beli perusahaan yang nilai jualnya di atas Rp 1 trilun, seperti yang saya jumpai hari minggu lalu sempat ngobrol santai dengan salah seorang pimpinannya di Bogor, saya hanya bisa tersenyum sambil intropeksi diri.

Hehe..

 

Di dekat kebun saya tanaman Jeruk Chokun Madu Thailand tepatnya di Desa Kumpai Batu Atas Pangkalanbun Kalteng, ada 2 rumah tangga punya usaha klas rumahan, usahanya telah berjalan lebih dari 20 tahun lamanya, nama produknya ” Rengginang “, bahan bakunya beras ketan dengan kebutuhan per hari 200 kg atau totalnya Rp 70 ton/tahun/KK, dengan harga beras belinya  dengan harga antara Rp 16.000 sd Rp 23.000/kg nya, dijual Rp 30.000/kg. Kalau kita raba kebutuhan bahan baku utama beras ketan saja Rp 70 ton x Rp 20.000 = Rp 1,5 Milyar/tahun.

Luar biasa !

 

Terpikir oleh saya saat beli Rengginang di lokasi tersebut buat oleh – oleh pulang ke Cibubur, jumlah 70 ton beras ketan/tahun setara dengan hasil panen seluas 200 hektar, atau kalau di jawa setara dengan milik petani sebanyak 700 KK, karena rerata kepemilikan sawah di jawa 0.3 ha/KK dengan jumlah 14 juta KK (BPS).

 

Lalu saya juga terpikir, andaikan petani padi yang selama ini mengeluhkan sulit meraih kesejahteraan akibat lahannya sempit hanya 0.3 ha saja, tapi ditanam padi ketan lalu dijadikan rengginang maka nilai tambah produk turunannya tidak pindah ke pihak lain, tetap menjadi bagian dari proses mengikat nilai tambah sekaligus mendongkrak kesejahteraannya.

 

Terpikir juga oleh saya, jika yang selama ini mengaku sulit mencari lapangan kerja dan akhirnya tercatat masuk daftar pengangguran, niscaya dengan pola tiru kelola ceruk pasar tersebut maka tak lagi punya status jadi pengangguran. Tentu masih banyak lagi produk turunannya dari beras ketan jika mau lebih inovatif kreatif lagi.

Kuncinya mau atau tidak melangkah berbuat nyata.

 

Belum lagi jika beras ketan tersebut jika diproses jadi tepung ketan masih banyak lagi nilai tambahnya jika dijadikan kue kuliner, agar tidak melulu tergantung dari hasil pabrikan perusahaan – perusahaan besar seperti selama ini. Seperti banyak dikeluhkan banyak pihak.

Ini hal sangat sederhan sekali.

 

Kembali ke hulunya..

Sawahnya 0.3 ha jika ditanam ketan 3 ton/tahun lalu harga rerata Rp 20.000/kgnya jdai bahan baku tersebut setara dengan Rp 60 juta/0,3 ha/tahun. Karena mengambil peran mulai dari hulu hingga hilir dalam 1 rangkaian usahanya.

Jika total dijadikan rengginang beda lagi omset dan manfaat buat sekitarnya.

Ehm.

 

Walaupun dari buku manapun juga dan pendapat pakar manapun juga selalu mengatakan bahwa hambatan terbesar untuk menaikkan derajat kesejahteraan masyarakat pedesaan utamanya profesi petani karena sempitnya lahan yang dimiliki, solusinya hanya pada ketepatan memilih komoditas bernilai ekonomi tinggi atau mengambil peran integrasi hulu hingga hilir secara terpadu mandiri.

 

 

Ingat…

Lokasi hanya luasnya 5 x 6 meter saja bisa beromset milyaran jika yang diperdagangkan logam mulia emas intan berlian, beda lagi jika yang diperdagangkan sekedar besi biasa.

 

Semoga bermanfaat..

 

 

Salam Improvisasi Diri dan Melangkah Nyata Kaum Muda🇮🇩

WS/Pak Tani

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan