EMPIRIS PETANI MENGATASI KRISIS

_*Sejenak pagi…*_

*” EMPIRIS, STRATEGI PETANI MENGATASI KRISIS “*

_*Oleh : Wayan Supadno/Pak Tani*_

Tahun 1994 saya dinas di Rindam l/BB Pematang Siantar Sumatera Utara, seusai apel pagi sekitar jam 8.00 hampir selalu terdengar musik suara keras nyaring dari dalam mobil Hard Top bak terbuka (Pick Up Rekayasa) yang lewat di jalan aspal samping kantor dinas saya, berbulan – bulan saya perhatikan hampir selalu mengangkut bibit sawit, pembibitannya di samping rumahnya lalu dibawa ke kebunnya, pengemudinya nampak bahagia sekali, sambil nyanyi riang gembira tersenyum lepas.

Rasa penasaran saya mengantar saya datang ke rumahnya, kadang sabtu minggu saat saya liburpun sengaja ikut ke kebun sawitnya, semata – mata ikut proses lapangan agar tahu persis apa yang terjadi, guna membekali diri agar ke depan lebih tahu lagi.

Berbagai pertanyaan saya selalu dijawab dengan penjelasan yang begitu lugas edukatifnya, misal saja saat saya tanya kenapa tanam sawit dan terus dikembangkan, jawabnya sederhana karena marketable dan sekali tanam bisa jadi passive income selama 25 tahun mendatang, tanpa terlalu sibuk. Menggiurkan sekali bagi saya yang saat itu termasuk orang sibuk karena jadi Guru Pelatih Militer di Dodiklapur.

Begitu juga saat saya tanya kenapa jadi Pengusaha, jawabnya terkesan idealis tapi nyata adanya, karena ingin bisa hidup bermanfaat nyata lebih luas lagi bagi sesamanya, hanya dengan jalan itu jadi Pengusahalah rasanya peluang terbesar untuk mewujudkannya.

Tahun 1995 akhir, berkat terinspirasi saya undang Orang Tua saya yang di Sulawesi agar ikut saya, lalu kami iuran beli kebun sawit 2 ha dan 0.5 ha lahan pekarangan beserta rumah jatah peserta transmigrasi di Kandis Prov. Riau, milik masyarakat setempat (lahan jatah masyarakat lokal) tapi langsung dijual ke kami hanya dengan harga Rp 3.750.000 saja. Praktis dari hasilnya beberapa bulan saja total kembali modal (ROI).

Di lokasi tersebut ada ribuan KK Petani Sawit Plasma, campur aduk beragam suku dan asal usulnya menempati 1 hamparan luasnya puluhan ribu hektar. Semua peserta transmigrasi. Semua hidup bahagia, bahkan seakan terlihat terlalu dimanjakan oleh pendapatan yang jauh dari biasanya dan rutin.

Tahun 1998, terjadi krisis moneter nasional, tapi di balik itu berkah teramat mewah bagi Petani Sawit karena harganya melambung tinggi. Sekejap hidupnya berubah total, rumah jatah pada dirombak jadi lomba mewah, begitu juga mobil dan lainnya. Praktis semakin terlihat dimanjakan.

Tahun 2015, terjadi krisis hebat harga sawit anjlok hingga pada Titik HPP (Harga Pokok Produksi), di sinilah proses belajar mengatasi masalah secara nyata di lapangan. Beragam improvisai diri untuk tetap bisa berdiri di atas telapak kaki sendiri, salah 1 nya ternak sapi. Akhirnya berlomba – lomba kebaikan latah ternak sapi secara terintegrasi dengan sawit.

Dampaknya biaya pemupukan berkurang, pendapatan ganda dari sawit dan sapinya, terus dan terus berkembang hingga sekarng saya dengar beritanya populasi sapinya sudah puluhan ribu ekor milik masyarakat transmigrasi. Di lepas di kebun sawit.

Hikmahnya..
Saat terjadi krisis seperti saat ini seakan sudah terlatih, ancamannya jadi peluangnya, tekanan krisis harga sawit makin menjadikan lebih gigih lagi. Ibaratnya naik sepeda motor jatuhpun, dijadikan agar makin tahu sebab dan solusi ke depannya.

Kesimpulannya..
Dulu tahun 1995 di Kandis Riau, kawasan transmigrasi yang saya tahu kehidupan masyarakatnya yang sangat bersahaja, tapi kini jauh perubahannya, setidaknya telah banyak putra putrinya telah jadi sarjana, kebun dan ternaknya telah berkembang pesat jadi sentra pertumbuhan ekonomi baru di daerah, berkat sawit sapi.

Jika semua serba slalu mudah maka kapan kita belajar tentang kesabaran, jika tanpa hambatan kapan kita belajar tentang mental kemandirian..

Buat segenap saudaraku Petani sawit, mari tetap bersyukur, jangan lihat hanya saat gelapnya malam saja, sesungguhnya adanya malam agar kita istirahat tenang sesaat saja, buat bekal saat terang tiba lagi..

Satu hal lagi, tidak bermaksud mengajak membusungkan dada, tapi justru agar kita makin rendah hati, bahwa karena kita telah tercipta devisa buat negara kita dari sawit Rp 244 trilyun selama tahun 2017 (BPS), untuk itu mari tetap tegar ikhtiar mencari solusinya, yang nyinyir hanya melihat sisi negatifnya tentang sawit biarlah berlalu toh lambat laun akan malu sendiri….

Semoga bermanfaat..

Salam 🇮🇩
WS/Pak Tani

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan