KIAT BANGKIT DARI BANGKRUT PETANI SUKSES

Sejenak pagi….

KIAT BANGKIT DARI BANGKRUT PARA PETANI SUKSES

Oleh : Wayan Supadno/Pak Tani

Saat saya masih SD dulu, selalu beranggapan bahwa peserta transmigrasi adalah pertanda orang miskin, sehingga menakutkan sekali dapat predikat itu, saya meyakini hingga sekarangpun masih banyak masyarakat yang beranggapan begitu, memandangnya hanya dengan ” sebelah mata ” saja, tapi sebagian lagi masyarakat lain utamanya yang sudah banyak pengalaman merantau ke berbagai daerah di luar jawa justru yang sudah mau melihat ” terbelalak dengan kedua matanya “.

Itu semua karena banyak empiris mayarakat yang mampu meyakinkan masyarakat itu sendiri, misal saja di kampung saya sendiri di Banyuwangi selatan, tiap kali ada yang menjual tanah sawah yang harganya di atas Rp 500 juta hampir bisa dipastikan dana dari luar jawa atau luar negeri.

Saya sendiripun lagi punya usaha sedang membuat beberapa ruko dan kaplingan siap bangun yang menghabiskan atau laku terjualnya justru dana dari luar jawa dan luar negeri, masyarakat yang berpenghasilan dari luar jawa maupun luar negeri. Tidak ada dana dari hasil di desa saya sendiri. Fakta lapangan.

Saya teringat dengan nasayarakat Transmigrasi Perkebunan Inti Rakyat (PIR Bun) di banyak tempat di Prov. Riau khususnya, seingat saya pada tahun 1995 sangat bersahaja, tapi sekarang justru jadi sentra pertumbuhan ekonomi di daerah secara massal dan serentak, yang dulunya lahan semak belukar kini jadi desa produktif bahkan banyak juga yang jadi kota baru yang menampung multi profesi masyraakat jamak profesi, bukan hanya masyarakat berprofesi petani saja, hulu hilir lengkap sudah. Ini program Pemerintah masa lalu yang sukses besar legendaris yang tidak boleh kita pungkiri.

Praktis pertumbuhan penduduk tidak numpuk di jawa saja, mobilisasi penyebaran penduduk berjalan sesuai harapan, bukan hanya di jawa saja, tentu ini diikuti oleh pertumbuhan ekonomi masayarakat riil di pedesaan masyarakat bawah, bukan hanya pertumbuhan ekonomi pada kelompok kecil tapi mendominasi ekonomi Indonesia, ini catatan penting yang patut jadi perhatian.

Banyak masyarakat di luar jawa yang sukses itulah jadi ilmu hikmah masyarakat lainnya, utamanya yang di jawa dapat kesulitan tumbuh dan berkembang bahkan bangkrut ekonomi keluarganya lalu pergi merantau ke luar jawa menjemput kesuksesan, apalagi yang mengalami kebangkrutan, banyak karena tekat bulat itulah jadi bekal membuka lembaran kisah hidup baru yang jauh lebih sejahtera, seperti saya dulu saat bangkrut maka kiatnya ” keluar dari komunitias profesinya “.

Persis sama saat saya 9 tahun silam bangkrut usaha di dunia usaha rumah sakit dan properti di Riau maka saya harus keluar dari itu, karena komunitas tersebut telah hilang kepercayaannya kepada saya, mereka terlalu sulit diyakinkan kembali bermitra dengan saya dan butuh waktu energi terlalu besar jika mau mengembalikan agar percaya saya lagi, maka saya mengalihkan perhatian pada sasaran baru, komunitas profesi baru, fokus dan total ke komunitas profesi yang belum banyak mengenal saya yaitu agribisnis atau pertanian atau perkebunan.

Saat ini saya lagi bersama dengan beberapa oarang yang bangkit dari kegagalan dan kebangkrutan, di Pangkalanbun Kalteng setidaknya ada 7 KK, kiat sukses mereka beda lagi dan beragam, mereka lari dari komunitas lama di profesi pertanian di jawa masuk ke konunitas profesi pertanian juga, tapi beda lokasinya yaitu di Kalimantan, beda masyarakatnya sehingga mudah dan tak perlu banyak energi terkuras untuk menjalin sebuah kerja sama, waktu tenaga pikirannya totalitas untuk fokus membangun kepercayaan, bangkit dari kebangkrutan agar jaya abadi untuk sebuah kehidupan di masa mendatang.

Rasanya, hanya sekejap saja bagai disulap utangnya yang dulu dilunasi semua, sawahnya dan rumahnya yang dulu terjual dibeli kembali, awalnya dengan cara menumpang lahan terlantar ditanam berbagai macam tanaman yang hasilnya selama ini didatangkan dari jawa, pendek kata memutus mata rantai tengkulak perdagangan, sekaligus menyegat di ujung pasarnya di Kalimantan. Dramatis dan produktif.

Mental saat bangkrut..
Hampir bisa dipastikan kondisi jiwa saat bangkrut adalah goncang, labil tak tentu karena rasa malu berlebihan, sehingga dibutuhkan ” mental penguasaan pengendalian diri ” ini yang utama dan pertama, harus berani mawas diri audit kapasitas dan membuat strategi baru, niat baik membidik target yang baru terukur, tentu harus lebih dekat lagi kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Adapun penyebab – penyebab bangkrut biasanya karena :

1. Lepas kendali karena over ekspansi, ibaratnya pembalap tekan gas lupa injak rem, seakan agar dianggap jadi pembalap paling cepat sampai tujuan atau agar dianggap paling hebat dari yang lainnya.

2. Tidak perhatian terhadap tanda – tanda lapangan maupun arus kas ( _cash flow_ ) mauoun neraca laba rugi sebagai rambu – rambunya, ibaratnya pembalap abai terhadap rambu – rambu lalu lintas, sudah tahu lampu kuning atau di tikungan tajam tetap saja pada kecepatan tinggi sambil tolah toleh mencari alternatif lain tanpa konsentrasi.

3. Mengibarkan bendera nama besarnya tanpa sadar kekuatan tiangnya, ini sering terjadi karena sifat lazimnya manusiawi, ingin membangun nama besar yang abadi bersejarah seoanjang masa, bukan hanya sebatas usianya semata.

4. Teritipu pihak lain atau kurangnya ke hati – hatian, penyakit kejadian ini yang paling sering jadi penyebab kegagalan kebangkrutan, tidak semua orang sebaik yang kita pikirkan, tidak selamanya niat baik kita dibalas dengan kebaikan oleh orang lain, bahkan kadang kebaikan kita niat menolong dan mempercayainya saat dia butuh kita tapi saat itu pula kita dimanfaatkannya dianggapnya kita bodoh nudah ditipunya. Ibarat tanaman terserang hama penyakit.

Kesimpulannya …
*Gagal dan bangkrut bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja tapi selalu memberikan ilmu hikmahnya buat bekal ke depannya, banyak faktor penyebabnya baik internal maupun eksternal, analisa matangnya perencanaan adalah sebuah keharusan sebagai bagian dari langkah mengantisipasinya, sikap mental tahu diri dan kendali maupun menahan diri saat gagal atau bangkrut adalah hal utama, niat baik dengan melangkah pasti fokus pada sasaran baru adalah sikap bijak memacu percepatan agar sampai pada tujuan bangkit jaya kembali.*

Semoga bermanfaat..

Salam Bangkit 🇮🇩
WS/Pak Tani

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan