SAATNYA ADA PRODI YANG MISINYA MENCETAK PARA EKSPOTIR

Wayan Supadmo (Inovator Tani)

Sejenak pagi

SAATNYA ADA PROGRAM STUDI MISINYA CETAK EKSPORTIR BARU

Oleh : Wayan Supadno/Pak Tani

dwimulyo.desa.id. | 01-10-2018

Jika kita mau jaya di masa depan hendaknya mau belajar dari sejarah sebagai ilmu hikmahnya, hikmah untuk bekal langkah – langkah mendatang, Nusantara pernah jaya tingkat dunia, misal ;

1. Masa penjajahan, hasil bumi kita bisa mengusai dunia seperti ; tembakau, gula tebu, pala, lada, kelapa, teh, karet, kakao dllnya.

2. Masa tahun 1984 an, kita bisa swasembada bahkan ekspor juga seperti beras dan sapi.

Di atas tersebut bukti bahwa sesungguhnya kita mampu, SDA kita sangat luar biasa, masalah utamanya pada SDM kita, hanya kita mau berani tahu diri dan jujur apa tidak mengakui kesalahan atau kekurangannya, atau hanya sebatas bisa menbusungkan dada memyalahkan pihak lain dan saling menyalahkan.

Bung Karno dalam pidatonya pada saat peletakan batu pertama pembangunan Kampus IPB berpesan ; *” HIDUP MATINYA SEBUAH BANGSA TERLETAK PADA ADA ATAU TIDAKNYA KETERSEDIAAN PANGANNYA “*, artinya ada sebuah harapan besar agar kita sadar bahwa pangan itu sangat penting, rohnya sebuah bangsa, sekaligus pengharapan besar dibangunnya kampus pertanian, sebagai simbul betapa pentingnya adanya sebuah Insan Intelektual Pertanian dari generasi ke generasi yang dipersiapkan sejak dini.

Lalu..
Apa sebab prestasi emas Nusantara di atas bisa menghilang, bahkan sekarang makin banyak daftar impor pangan jika kita bandingkan tahun 1884, misal beras 1 juta ton lebih, gula 7 jutaan ton, gandum 12.5 juta ton, sapi 800.000 ekor/tahun dllnya.

Hikmah lagi..
Semalam saya share ada kebutuhan dari Korea Selatan jumlah banyak ; mengkudu kering, sidat, sayur mayur dllnya. Ratusan member medsos japri saya menawarkannya, mulai yang mau tanam, yang basah mau petik dan kering mulai klas jumlahnya kg hingga ton. Tapi hanya 3 yang mau langsung ekspor. Sisanya kemana, hanya mau jadi petani dan pengepulnya.

1 hikmah lagi..
Beberapa bulan lalu saat jeruk dan buah naga di Banyuwangi hanya dihargai Rp 2.000/kg, bahkan banyak yang tidak dipanen, tapi di Singapura lagi banyak butuh barang serupa.
Kenapa ini terjadi, tak lepas dari jumlah eksportir kita yang masih sangat sedikit.

Ekspotir Muda oleh Inonator Tani ( Wayan Supadmo) dok. desa.id by : Wayan Supadmo

Saya selaku Petani sungguh menyambut gembira tat kala diajak diskusi beberapa pejabat teras Kementan tahun lalu bahwa Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) dalam naungan Kementan di seluruh NKRI mau dilebur dan baru beberapa hari lalu dimulainya, diganti yang kebih adaptif dengan maunya jaman yaitu Politeknik Pembangunan Pertanian, saran saya saat itu salah 1 nya agar dibangunlah prodi yang mengantisipasi era mendatang salah 1 nya adalah Eksportir Baru Muda, pencetak devisa, pemasar hasil pertanian, intinya plasma petani jamak.

Saya meyakini jika kampus – kampus lain mendirikan prodi ini akan laku keras, terlebih jika alumninya hampir total jadi eksportir karena instrukturnya banyak melibatkan para eksportir berpengalaman.

Modalnya..
*Kesalahan fatal jika setiap usaha selalu diawali bertanya modal dananya (kalimat tidak edukatif), saat saya mengundang ke rumah saya 2 tahun silam para eksportir turunan kelapa Bp Tanto dan Bp Efli berkisah bahwa selama ini uang dikirim duluan maunya berapa saja dituruti oleh buyernya asal bertanggung jawab bisa suplai kontrkanya, hingga kelelahan menenuhi maunya pasar di luar negeri.

Semoga bermanfaat..

Salam 🇮🇩
WS/Pak Tani
WA 081586580630

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan